SIBERONE.ID, SANGATTA – Pemeriksaan filariasis putaran kedua di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih menemukan kasus penyakit kaki gajah. Hingga pemeriksaan yang berlangsung pada September 2026, tercatat enam kasus filariasis yang teridentifikasi dari hasil penilaian tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur, Yuwana Sri Kurniawati, menyampaikan pemeriksaan pasca Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) filariasis kedua atau Blood Survey (BIS) dilakukan untuk melihat perkembangan kasus setelah intervensi yang telah berjalan sebelumnya.
Kegiatan tersebut berlangsung mulai 21 hingga 30 September 2026 dengan pemeriksaan sampel darah masyarakat. Pengambilan darah dilakukan pada malam hari karena pemeriksaan mikrofilaria membutuhkan waktu pengambilan yang sesuai agar parasit dapat terdeteksi.
Yuwana menjelaskan, masyarakat yang menjadi sasaran pemeriksaan akan terlebih dahulu mendapatkan pemberitahuan dari Puskesmas. Dengan demikian, petugas dapat melakukan pengambilan sampel secara terarah sesuai lokasi yang telah ditentukan.
“Untuk saat ini penemuan kasus brugia atau filariasis atau kaki gajah itu ada enam. Kebanyakan di Muara Bengkal, kemudian ada juga di Kelinjau Hulu,” ujar Yuwana.
Dari rangkaian pemeriksaan yang masih berjalan, satu kasus kembali ditemukan di Sangatta Selatan. Temuan tersebut menjadi bagian dari hasil penilaian yang masih berlangsung hingga 30 September 2026.
Menurut Yuwana, keberadaan kasus baru menunjukkan upaya eliminasi filariasis di Kutim masih membutuhkan pemantauan. Pemeriksaan berkala menjadi bagian penting untuk mengetahui apakah penularan masih terjadi di masyarakat.
“Kalau saat ini kita masih ada kasus enam, kita belum bisa eliminasi. Nanti kita evaluasi lagi dua tahun ke depan, mudah-mudahan bisa bebas dari filariasis,” katanya.
Dinas Kesehatan Kutai Timur akan melanjutkan pemantauan terhadap kondisi filariasis melalui evaluasi berikutnya. Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran perkembangan penyakit sekaligus menjadi dasar untuk menentukan langkah lanjutan menuju eliminasi filariasis di daerah tersebut. (adv/SO2)














