SIBERONE.ID, SANGATTA – Pembelajaran digital mulai diuji di sejumlah TK Negeri di Kutai Timur. Pengembangan ini tidak sekadar mengenalkan teknologi kepada anak usia dini, tetapi juga diarahkan agar materi yang digunakan tetap dekat dengan lingkungan dan kehidupan sehari-hari mereka.
Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan Pendidikan Nonformal (PNF) Kutim, Heri Purwanto, mengatakan guru dan staf mulai membuat bahan belajar dalam bentuk video serta animasi. Media tersebut digunakan untuk membantu menyampaikan materi dengan cara yang lebih sesuai dengan karakteristik anak PAUD.
Pengembangan materi digital juga dipadukan dengan kearifan lokal. Konten pembelajaran dibuat dengan mengambil hal-hal yang dikenal anak di lingkungan sekitarnya, sehingga penggunaan teknologi tidak membuat materi terasa jauh dari kehidupan mereka.
Salah satu contoh yang dikembangkan berupa animasi tentang tanaman kelapa sawit. Materi tersebut menggambarkan proses mulai dari penanaman hingga tanaman menghasilkan buah dan memasuki tahap panen.
Heri menjelaskan pendekatan semacam itu membuat materi digital memiliki konteks yang lebih dekat dengan kehidupan anak di Kutai Timur. Guru dapat mengenalkan teknologi sekaligus memperkenalkan lingkungan sekitar melalui bahan belajar yang sederhana dan mudah dipahami.
“Jadi kita sudah mulai mencoba di TK Negeri, kita membuat video-video, animasi-animasi yang memang sesuai dengan kearifan lokal kita,” ujar Heri.
Penggunaan video dan animasi menjadi bagian dari pengembangan pembelajaran yang mulai diarahkan mengikuti perkembangan teknologi. Materi tidak hanya disiapkan dalam bentuk visual, tetapi disusun agar tetap relevan dengan tahap perkembangan peserta didik di jenjang PAUD.
Pengembangan tersebut juga berkaitan dengan program coding dan kecerdasan buatan (AI) yang mulai dikenalkan dalam pembelajaran. Meski memanfaatkan teknologi baru, Heri menekankan isi pembelajaran tetap perlu mempertahankan konteks lokal sebagai bagian dari pengalaman belajar anak.
“Misalnya kita buat animasi tentang sawit, dari mulai ditanam sampai dia panen. Jadi memang kita sesuaikan dengan kearifan lokal kita,” jelas Heri.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pembelajaran digital secara bertahap di PAUD Kutim. Teknologi ditempatkan sebagai media pendukung, sementara materi tetap disusun berdasarkan lingkungan, budaya, dan pengalaman yang dekat dengan kehidupan anak. (adv/SO2)














