SIBERONE.ID, KUTAI TIMUR– Ketua DPRD Kutai Timur (Kutim), Jimmi, menilai perhatian pemerintah terhadap profesi guru saat ini memang bergerak ke arah yang lebih baik, tetapi belum cukup untuk menjawab tantangan baru yang dihadapi dunia pendidikan. Ia menekankan bahwa guru kini tidak sekadar mengajar di kelas, melainkan berhadapan dengan arus informasi digital yang sering kali tidak terverifikasi. “Tantangan terbesar guru saat ini adalah literasi, karena kualitas SDM kita sangat dipengaruhi oleh informasi-informasi di media sosial yang sering tidak memiliki referensi valid,” kata Jimmi, Selasa (25/11/2025).
Jimmi menyoroti derasnya konten menyesatkan di media sosial yang mampu menghabiskan waktu dan konsentrasi siswa. Ia menilai peran guru menjadi semakin penting untuk membimbing anak didik agar mampu memeriksa ulang informasi yang mereka temui secara daring. “Kita berharap anak-anak ketika membaca sesuatu bisa mencari referensi dan informasi yang valid. Dasarnya ya dari guru. Guru yang menentukan kualitas literasi bangsa ini,” tegasnya.
Selain persoalan literasi digital, Jimmi menyinggung fenomena yang belakangan banyak terjadi, yakni guru dilaporkan oleh orang tua murid saat mendisiplinkan siswa. Menurutnya, kejadian seperti itu mencerminkan perubahan cara masyarakat memandang otoritas guru, sekaligus menunjukkan perlunya perlindungan yang lebih kuat bagi tenaga pendidik. Ia menyebut bahwa perubahan pola interaksi antara guru, siswa, dan orang tua berdampak langsung pada ruang gerak guru dalam menjalankan tugas mendidik.
“Ada perbedaan cara mendidik antara dulu dan sekarang. Kasihan anak-anak, waktu belajar mereka tersita oleh hoaks dan keselewengan di media sosial,” ujarnya.
Melihat tantangan tersebut, Jimmi meminta pemerintah pusat dan daerah untuk memperkuat dukungan, baik melalui peningkatan tunjangan, program pelatihan literasi digital, maupun perlindungan hukum bagi guru yang menjalankan fungsi kedisiplinan. Ia menilai langkah-langkah itu penting untuk memastikan guru tidak bekerja sendirian menghadapi tekanan ruang digital yang semakin kompleks. “Guru adalah garda terdepan melawan hoaks dan membentuk karakter bangsa. Perhatian kepada mereka tidak boleh setengah-setengah,” pungkasnya. (adv/soj)














