SIBERONE.ID, KUTAI TIMUR- Menanggapi persoalan tenaga kesehatan, terutama dokter spesialis yang enggan ditempatkan di wilayah terpencil. Anggota DPRD Kutai Timur, Novel TYTY Paembonan menyebut persoalan itu bukan sekadar jumlah, tetapi lebih pada komitmen dan penghargaan terhadap profesi dokter.
“Yang jadi tugas berat adalah dokter spesialis dan dokter gigi spesialis. Nah hal itulah yang perlu kita perhatikan bersama,” ujarnya.
Ia menyoroti maraknya kasus dokter spesialis penerima beasiswa pemerintah yang tidak menjalankan tugas sesuai perjanjian penempatan. Bahkan banyak diantara mereka yang tidak menjalankan kesepakatan yakni sesuai dengan perjanjian awal.
“Ada yang baru enam bulan atau setahun sudah pindah. Padahal itu tidak boleh. Pemerintah akan menegaskan ulang aturan ini. Jangan sampai semaunya mereka saja. karena pemerintah sudah membiayai saat proses pendidikan,” katanya.
Novel menilai dokter wajar menginginkan penghargaan yang layak karena risiko pekerjaan mereka sangat tinggi.
“Mereka berhadapan dengan benda hidup, bisa terinfeksi, bisa sakit. Ini tugas kemanusiaan. Tapi profesi mereka harus dihargai,” tegasnya.
Solusi yang ia usulkan adalah komunikasi terbuka antara pemerintah daerah dan dokter. “Harus dipanggil, diajak bicara baik, diberi apresiasi, gaji yang disepakati, fasilitas yang membuat mereka mau ditempatkan sampai tingkat kecamatan,” ujarnya.
Novel juga menegaskan bahwa tanpa tenaga profesional yang benar-benar siap tinggal dan bertugas, pelayanan kesehatan tidak akan optimal. (adv/sl)














