SIBERONE.ID, KUTAI TIMUR— Kondisi jalan rusak parah di wilayah pesisir Sandaran, Kutai Timur, memicu keresahan warga. Bahkan, dua desa yakni Mangkalihat dan desa pesisir lain menyampaikan ancaman serius: mereka siap mengajukan perpindahan administrasi ke Kabupaten Berau jika akses jalan tidak segera dibangun.
Anggota DPRD Kutim, H. Shabaruddin, membenarkan aspirasi tersebut. Menurutnya, hal ini merupakan alarm bagi pemerintah daerah untuk segera merespons kebutuhan masyarakat pesisir.
“Warga di Mangkalihat dan beberapa desa pesisir sudah kecewa. Mereka bilang, kalau Kutim tidak bangun jalan, lebih baik bergabung ke Berau. Ini alarm serius,” ujarnya.
Shabaruddin menuturkan secara geografis, masyarakat pesisir memang lebih mudah beraktivitas ke Biduk-biduk, Berau, dibanding ke Sangatta. Kondisi ini membuat mereka merasa kehadiran pemerintah Kabupaten Kutai Timur jauh dari realitas kehidupan sehari-hari.
“Kita dari Kutim mau ke Sandaran saja harus lewat Berau. Bayangkan bagaimana rasanya warga di sana. Ini soal pelayanan dasar, tapi mereka merasa diabaikan,” katanya.
DPRD mendorong percepatan perbaikan jalan melalui skema multiyears contract (MYC). Komisi D telah mengusulkan lima paket pembangunan yang diharapkan masuk prioritas, termasuk jembatan dan akses utama ke desa-desa pesisir.
“Akses itu nyawa pembangunan. Kalau tidak dibangun, jangan salahkan masyarakat kecewa,” tegasnya.
Ia menekankan pemerintah harus bertindak cepat, bukan hanya memasukkan program ke dalam perencanaan tanpa realisasi.
“Jangan sampai warga semakin jauh dari pemerintahnya sendiri. Jalan adalah simbol kehadiran negara dan pembangunan yang merata,” pungkas Sabaruddin. (adv/sl)














