SIBERONE.ID, KUTAI TIMUR— Upaya peningkatan daya saing produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menuju pasar ekspor terus menunjukkan perkembangan positif. Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro (PUM) Dinas Koperasi dan UMKM Kutai Timur, Pasombaran, mengungkapkan bahwa evaluasi pemberdayaan produk UMKM kini sudah berjalan lebih terarah melalui berbagai program strategis.
“Ini terus kita lakukan melalui business matching, expo pameran,” ujarnya, menegaskan bahwa pemerintah daerah secara konsisten membuka ruang promosi dan akses pertemuan bisnis bagi pelaku UMKM.
Sebagai bentuk konkret dari upaya tersebut, tim Dinas Koperasi dan UMKM Kutai Timur saat ini tengah mengikuti expo nasional di Batam yang berlangsung pada 27–30 November 2025. Pada ajang ini, sejumlah produk unggulan daerah yang telah melalui proses kurasi kembali diperkenalkan untuk menjangkau lebih banyak buyer luar negeri.
“Yang kita bawa itu mulai dari gula aren, gula semut, juruq, kemudian produk nanas, kripik, ada juga sekarang itu sari buah nanas,” jelas Pasombaran.
Salah satu produk yang mendapat perhatian khusus adalah sari buah nanas, yang pengembangannya melibatkan kolaborasi erat antara Dinas UMKM dan Dinas Pertanian Hortikultura. Pasombaran menyebut, sebelumnya produk ini masih tampil tanpa informasi yang jelas saat dipamerkan di Samarinda.
“Kita tegur, silakan kasih kita data UMKM-mu. Kita dampingi, kita beri label atau picking. Alhamdulillah sekarang itu sudah dilakukan,” katanya. Kelengkapan label tersebut kini membuat konsumen lebih percaya dan memahami kandungan serta legalitas produk, termasuk aspek halal dan kesehatan.
Perbaikan ini dinilai penting karena tampilnya produk yang informatif menjadi salah satu kunci dalam menembus pasar luar negeri. Pasombaran menambahkan bahwa peningkatan kualitas tampilan produk, mulai dari kemasan hingga informasi lengkap pada label, menjadi faktor utama untuk menarik minat buyer maupun pengunjung expo.
“Kalau sudah dilengkapi picking-nya, botolnya ada informasinya, ya kita sudah tidak ragu membeli. Warga juga,” tambahnya.
Sementara itu, pertumbuhan UMKM di tingkat kecamatan juga menunjukkan tren menggembirakan. Kecamatan Sangatta Utara tercatat sebagai wilayah dengan peningkatan pelaku UMKM paling signifikan, terutama pada produk amplang batu bara yang kini dihimpun dari sedikitnya 50 pelaku usaha.
“Yang paling banyak meningkat itu Sangatta Utara sebagian besar dari sana. Dari Sangatta Selatan hanya satu,” ungkap Pasombaran, sembari menyebut bahwa untuk produk gula merah, daerah Kandolo masih menjadi sentra yang terus bertumbuh.
Salah satu pelaku UMKM yang mendapat pendampingan intensif adalah Syarifuddin, penghasil gula merah dari Kandolo. Meski rumah produksinya masih sederhana, pemerintah telah melakukan pembinaan sejak 2023 untuk memastikan kualitas produknya terus meningkat. Hasil uji mutu dilakukan secara berkala, di mana sebelumnya masih ditemukan arang, debu, hingga serangga kecil. “Itu yang kita perbaiki terus agar memenuhi kriteria ekspor,” imbuh Pasombaran.
Ia menegaskan bahwa kualitas menjadi syarat mutlak dalam perdagangan internasional karena setiap produk yang masuk ke negara lain akan melalui uji standar. Namun jika hasil uji mutu dari daerah sudah memenuhi kriteria yang disepakati antarnegara, produk dapat diterima tanpa pemeriksaan ulang.
“Tapi kalau kita lepas begitu saja tanpa uji mutu, tiba-tiba ada lalat di dalam, itu yang kita hindari. Itu sebabnya harus kita dampingi,” tegasnya.
Dengan langkah pembinaan yang semakin terarah, Kutai Timur optimis mampu mendorong lebih banyak produk UMKM untuk menembus pasar ekspor dalam skala besar. (az/adv)














