SIBERONE.ID, KUTAI TIMUR- Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Kutai Timur terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong kemajuan pelaku Industri Kecil Menengah (IKM). Melalui program pelatihan keterampilan yang dilaksanakan sepanjang tahun 2024, Disperindag berhasil memberikan dampak nyata terhadap peningkatan daya saing dan produktivitas pelaku industri lokal.
Kepala Disperindag Kutim, Nora Ramadani, mengungkapkan bahwa pada tahun 2024 pihaknya sukses menggelar lebih dari sepuluh gelombang pelatihan bagi pelaku IKM di berbagai kecamatan.
“Kami menyebutnya IKM karena mereka merupakan pelaku industri kecil menengah yang sudah memiliki kegiatan produksi, seperti industri kerajinan tangan dan pengolahan air. Berbeda dengan UKM yang lebih berfokus pada perdagangan, IKM berada di bawah pengawasan kami,” jelasnya.
Program pelatihan tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari pelatihan pengemasan hingga bimbingan teknis digital marketing. Melalui kegiatan ini, Disperindag menghadirkan para pelatih dan narasumber profesional ke Sangatta serta mengundang peserta dari berbagai kecamatan.
“Tujuan kami sejalan dengan pesan Bupati Kutim, yaitu meningkatkan daya saing pelaku usaha lokal agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman,” ujar Nora.
Salah satu program yang paling berdampak adalah pelatihan digital marketing. Menurut Nora, pelatihan tersebut memberikan hasil yang signifikan bagi pelaku IKM di daerah.
“Dari hasil evaluasi, rata-rata peserta mengalami peningkatan penjualan yang cukup tinggi. Misalnya, ada pelaku usaha madu yang sebelumnya hanya menjual tiga hingga lima liter per bulan, setelah menguasai digital marketing bisa mencapai penjualan hingga 25 liter per bulan,” ungkapnya bangga.
Keberhasilan itu, lanjut Nora, tak lepas dari semangat para pelaku IKM untuk terus belajar dan beradaptasi dengan teknologi. “Dengan pemasaran digital, jarak dan lokasi tidak lagi menjadi hambatan. Walaupun tempat usahanya berada di dalam gang, produk mereka kini bisa dikenal sampai ke kota lain seperti Bontang,” tambahnya.
Namun, memasuki tahun 2025, Disperindag Kutim harus menghadapi tantangan berupa efisiensi anggaran yang berdampak pada berkurangnya kegiatan pelatihan. Nora menegaskan, pihaknya tetap berkomitmen untuk melanjutkan program pembinaan IKM apabila kondisi anggaran kembali memungkinkan.
“Tahun ini kami belum bisa melanjutkan pelatihan karena keterbatasan anggaran. Tapi kami berharap ke depan situasi bisa pulih sehingga kegiatan pembinaan dapat kembali berjalan maksimal,” ujarnya.
Ia menutup dengan pesan optimis bahwa dukungan pemerintah dan penguatan kapasitas sumber daya manusia tetap menjadi kunci keberlanjutan IKM di Kutai Timur.
“Anggaran memang bukan segalanya, tapi sangat penting untuk menggerakkan roda pembinaan. Kami yakin jika dukungan kembali kuat, pelaku IKM Kutim akan semakin berdaya saing dan mampu bersaing di tingkat nasional,” tutup Nora Ramadani. (az/adv)














