SIBERONE.ID, KUTAI TIMUR- Anggota Fraksi Golongan Karya (Golkar) DPRD Kutai Timur, Hasbollah, menegaskan bahwa industrialisasi sektor kelapa sawit merupakan langkah strategis yang harus didorong pemerintah daerah untuk meningkatkan pendapatan daerah sekaligus membuka lapangan kerja baru. Menurutnya, Kutim memiliki potensi besar di sektor perkebunan sawit, namun selama ini pemanfaatannya masih berhenti pada pengolahan mentah. “Kita terlalu banyak kirim CPO keluar daerah. Dampaknya untuk masyarakat sangat minim,” ujarnya.
Hasbollah menjelaskan bahwa beberapa perusahaan besar sebenarnya telah memiliki fasilitas hilirisasi, namun jumlahnya masih jauh dari cukup untuk mendongkrak ekonomi daerah secara signifikan. Ia mencontohkan salah satu pabrik di wilayah Sangkulirang yang telah memproduksi minyak goreng, sabun, hingga bahan baku kosmetik. “Itu contoh nyata bahwa hilirisasi bisa berjalan, tinggal bagaimana kita memperluas model itu ke daerah lain,” katanya.
Menurutnya, keberadaan industri pengolahan dalam daerah akan menciptakan nilai tambah yang besar. Tidak hanya sekedar menambah PAD, tetapi juga memperluas peluang kerja terutama bagi generasi muda. Ia menilai banyak anak muda yang enggan masuk dunia pertanian atau perkebunan karena menganggap sektor tersebut masih tradisional. “Kalau industrinya berkembang, minat mereka pasti ikut meningkat,” tambahnya.
Hasbollah juga mengungkapkan bahwa Komisi B DPRD Kutim telah berencana melakukan koordinasi lanjutan dengan Dinas Perkebunan serta beberapa perusahaan besar, termasuk Grup Sinarmas. Langkah ini dimaksudkan untuk mendorong perusahaan-perusahaan tersebut membangun fasilitas hilirisasi langsung di Kutai Timur, bukan di luar daerah seperti yang terjadi saat ini.
Lebih jauh, ia menyebutkan bahwa keberadaan kawasan industri Maloy juga harus dimaksimalkan sebagai pusat pengembangan industri sawit di masa depan. Dengan area yang luas dan telah ditetapkan pemerintah sebagai kawasan strategis, Maloy dinilai sangat potensial menjadi magnet investor. “Harapan kita industri besar masuk ke situ, sehingga Kutim menjadi pusat hilirisasi,” jelasnya.
Namun, Hasbollah menyadari bahwa tantangan utama bagi investor adalah ketersediaan pasokan bahan baku yang stabil dan terjamin. Meski Kutim memiliki kebun sawit yang luas, beberapa investor masih ragu karena belum mendapat kepastian suplai jangka panjang. Hal inilah yang menurutnya harus segera diselesaikan melalui sinkronisasi antara pemerintah, perusahaan, dan petani.
Ia menegaskan bahwa industrialisasi bukan hanya tentang membangun pabrik, tetapi juga membangun ekosistem yang terintegrasi. Mulai dari pasokan bahan baku, akses infrastruktur, hingga kesiapan tenaga kerja lokal. Jika semua elemen ini terpenuhi, Kutai Timur akan sangat siap menjadi pusat industri hilir sawit di Kalimantan Timur.
Di akhir pernyataannya, Hasbollah menyampaikan optimisme bahwa industrialisasi sawit mampu menjadi pendorong ekonomi baru bagi Kutim. “Jika dikelola serius dan terarah, industri hilir sawit akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tutupnya. (adv/som)














