SIBERONE.ID, SANGATTA – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi menyoroti tingginya harga ayam di pasaran yang disebut telah mencapai sekitar Rp50 ribu per kilogram. Kondisi tersebut dinilai perlu ditelusuri untuk mengetahui penyebab perbedaan harga dari tingkat kandang hingga konsumen.
Menurut Mahyunadi, harga ayam di tingkat peternak atau kandang masih berada dalam kondisi normal. Karena itu, ia menilai perlu ada pemeriksaan lebih lanjut terhadap jalur distribusi sebelum ayam sampai ke pasar.
Ia menyebut persoalan tersebut berkaitan dengan mekanisme permintaan dan ketersediaan barang. Ketika kebutuhan masyarakat meningkat sementara pasokan tidak mencukupi, harga ditingkat konsumen berpotensi mengalami kenaikan.
“Kalau demand-nya tinggi, supply-nya kurang, maka harga pasti tinggi,” kata Mahyunadi saat diwawancarai Senin (07/09/2026).
Mahyunadi mengatakan pemerintah daerah perlu melihat lebih jauh proses distribusi ayam untuk mengetahui bagian rantai pasok yang berpengaruh terhadap pembentukan harga. Menurutnya, kondisi harga di pasar yang jauh berbeda dengan tingkat kandang menjadi hal yang perlu mendapat perhatian.
Ia juga menyampaikan rencana membahas persoalan tersebut bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim. Pembahasan itu diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kondisi perdagangan ayam di daerah.
Mahyunadi menyebut koordinasi dengan perangkat daerah terkait penting dilakukan karena persoalan harga tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga ketersediaan dan distribusi. Ia berharap pengawasan terhadap jalur pasokan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.
“Padahal di kandang harganya normal-normal saja, kok di pasar sampai Rp50.000/kg itu,” ujarnya.
Pemerintah daerah selanjutnya akan menindaklanjuti persoalan tersebut melalui pembahasan dengan Disperindag. Langkah itu diarahkan untuk mengetahui penyebab tingginya harga ayam di pasar serta bagian rantai pasok yang perlu diawasi lebih lanjut. (adv/SO2)














