SIBERONE.ID, KUTAI TIMUR– Selain fasilitas dasar, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Akhmad Sulaiman juga tersebut menyoroti masalah teknis yang dianggapnya ironis. Hal itu berkaitan dengan program unggulan Pemkab Kutim, yakni Beasiswa Stimulan Kutim Cemerlang yang alokasi anggarannya Rp 25 miliar.
Tidak tidak menampik, beasiswa itu wajib disalurkan dan sampai kepada murid-murid di Kecamatan Sandaran. Namun yang sangat ironi, proses pencairannya menimbulkan kendala besar dan kerugian bagi penerima beasiswa tersebut. Bukan tanpa alasan, satu-satunya bank yang melayani pencairan beasiswa tersebut berada di Sangkulirang.
“Sedangkan jaraknya sangat jauh. Biaya transportasinya saja sudah besar. Seperti dari Desa Menubar, perjalanan untuk mencairkan beasiswa yang nilainya Rp 1 juta itu, bisa memakan ongkos pulang pergi hingga Rp 500 ribu,” ungkapnya.
Maka itu, dia mendesak pemkab segera memikirkan solusi dan sistem pencairan yang lebih efektif dan efisien. Pasalnya beasiswa diberikan dengan tujuan membantu meringankan beban pendidikan siswa di Sandaran. Namun jika tidak ada solusi, maka hal itu bisa dikatakan sia-sia.
“Karena uang beasiswa yang dicairkan pasti akan digunakan untuk membayar ongkos perjalanan yang mencapai Rp 500 ribu. Fungsinya sebagai beasiswa pun tidak maksimal,” tuturnya.
Masalah tersebut, kata dia, menjadi salah satu bukti terjadi sebuah ketimpangan dalam pembangunan yang sudah berlangsung selama ini. Di Sandaran tidak hanya tertinggal dari segi infrastruktur, tetapi juga merambah sektor pendidikan yang juga tertinggal.
“Makanya saya berusaha untuk memberikan perhatian khusus melalui dana aspirasi. Alhamdulillah 30 persen dari pokir saya sudah dialokasikan untuk pendidikan di sana. SD, SMP, semuanya ada,” tutupnya. (adv/soy)














