SIBERONE.ID, KUTAI TIMUR- Ekspor amplang batu bara ke Malaysia telah direncanakan dengan sekali kirim sebesar 4-5 ton atau satu kontainer, namun hingga saat ini masalah utama yang dihadapi adalah rute untuk memasuki negara tersebut dan penantian persetujuan dari Bea Cukai Malaysia.
Dinas Koperasi dan UKM Kutai Timur, melalui Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro (PUM) Pasombaran menjelaskan, bahwa proses ekspor ini masih dalam tahapan persiapan, dan pihak kedua negara juga sedang membahas kemungkinan adanya sistem ekspor dan impor saling berganti, di mana Malaysia akan mengimpor produk dari Kutim dan sebaliknya.
“Rute menjadi masalah utama karena mempengaruhi biaya pengiriman dan harga jual produk, yang harus kita pertimbangkan secara cermat agar tetap kompetitif,” ujar Pasombara.
Ia menambahkan bahwa saat ini, rute yang tersedia membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang mahal, yang membuat produk menjadi kurang menarik bagi pembeli.
Selain itu, penantian persetujuan dari Bea Cukai Malaysia juga membutuhkan waktu yang cukup lama, yang membuat proses ekspor terhambat.
Namun, pemerintah daerah dan Genpro terus berusaha menyelesaikan masalah ini. Pasombara menyampaikan bahwa delegasi pemerintah telah melakukan pertemuan dengan pihak Bea Cukai Malaysia untuk mempercepat proses persetujuan dan mencari rute alternatif yang lebih efisien.
“Kita juga sedang membahas dengan perusahaan pengiriman untuk mendapatkan harga yang lebih murah, sehingga biaya pengiriman tidak terlalu membebani pelaku UMKM,” jelasnya.
Meskipun masih ada kendala, harapannya ekspor amplang ke Malaysia bisa berjalan lancar dalam waktu satu bulan ke depan. Keberhasilan ini diharapkan bisa membuka pelaku bagi produk lain dari Kutim, seperti coklat dan nanas, untuk memasuki pasar Malaysia. (sl/adv)














