
SIBERONE.ID, KUTAI TIMUR – Selalu menampung 70 ton sampah per harinya. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Batuta, yang terletak di Poros Sangatta-Bengalon itu mulai over kapasitas. Meskipun sampah itu tidak lagi menumpuk di tepi jalan, namun TPA dengan luas 7 hektar semakin sesak dengan sampah yang membukit bak gunung warna-warni.
Hal itu pun tidak ditampih Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutai Timur (Kutim) Armin Nazar. Dia mengatakan, perlu memaksimalkan berbagai upaya untuk memperpanjang usia TPA itu.
“Meski sampah yang menumpuk di tepi jalan sudah didorong masuk ke area TPA. Tapi, truk tidak berani masuk dumping area. Takut amblas. Mau tidak mau sampahnya diletakkan lebih dekat jalan masuk,” ungkapnya.
Namun untuk memaksimalkan pekerjaan di lokasi, Armin telah mengusulkan anggaran pengadaan bulldozer. Ya, nantinya bulldozer itu akan mendorong agar jalan dumping area tidak tertutup. Apalagi waktu excavator rusak, pihaknya kesulitan melakukan perapian. Namun dia juga bersyukur lantaran tahun lalu sudah ada pengadaan dua excavator.
“Jadi memang harus dibenahi. Setidaknya lebih baik dari sekarang, seperti TPA Bontang,” tuturnya.
Selain itu, dia juga membutuhkan excavator ukuran kecil. Adapun fungsinya, yakni khusus mengangkut tanah ke dump truk. Nantinya tanah itu akan digunakan menimbun sampah yang sudah menumpuk.
“Kami ingin menerapkan metode sanitary landfill (metode pengelolaan sampah modern). Itu efektif digunakan di TPA,” paparnya.
Kini pihaknya tengah mencari tenaga teknis yang dapat mengoperasikan pipanisasi metan. Hal itu dilakukan sebagai upaya menangkap gas metan yang terkandung dalam sampah. Kalau begitu saja ditimbun, khawatirnya meledak seperti yang terjadi di Bantar Gebang Bekasi, Jawa Barat (Jabar).
“Semoga tahun depan sudah terealisasi. Apalagi tempat pengolahan air lindi dari sampah sedang rusak. Kami juga memerlukan anggaran besar, sesuai dengan Detail Engineering Design (DED). Yang jelas dapat dipenuhi bertahap,” sebutnya.
Kendati demikian, paling utama dibutuhkan adalah bulldozer. Kalau hanya mengandalkan excavator tanpa dukungan bulldozer, maka ongkos operasional menjadi sangat besar. Dipastikannya, jika pembenahan tersebut dilakukan maka peluang mendapatkan sertifikat adipura akan semakin terbuka.
“Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semoga dua atau tiga tahun ke depan sudah bisa dapat (sertifikat adipura),” ucapnya.
Sejauh ini, pihaknya telah didukung UPTD TPA Sangatta Utara dan Sangatta Selatan. Bahkan keduanya sangat bersemangat, setelah diberi target meningkatkan capaian kinerja olehnya. Ada pula pembinaan RT dan kampung iklim di tiga desa dari tiga kecamatan, yakni Desa Sepaso-Kecamatan Bengalon, Singa Gembara-Sangatta Utara dan Gunung Teknik-Sangatta Selatan).
“Kalau sudah jalan, semoga RT dan desa lainnya menjadikan contoh dan meniru,” harapnya.
Ada pula indikator terhadap pelaksanaan sekolah adiwiyata atau pembinaan pengelolaan lingkungan dimulai dari dini. Untuk program ini, dia bersyukur sudah berjalan dengan baik.
“Jadi, kalau sudah mengikuti Adiwiyata nasional atau mandiri yang akhirnya juara, maka akan mendapatkan penghargaan dari KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan),” tutupnya. (adv/so2)














