
SIBERONE.ID, KUTAI TIMUR – Sebuah penghargaan yang didambakan setiap daerah di Indonesia. Berbagai upaya untuk memperoleh Piala Adipura pun selalu dilakukan. Bahkan menjadi tantangan tersendiri agar piala aitu diperoleh.
Ya, piala itu hanya diberikan kepada daerah yang berhasil menata kebersihan serta pengelolaan lingkungannya. Adipura diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen-LHK). Sedangkan sejak berdiri 1999 silam hingga saat ini, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) belum juga memperoleh piala tersebut.
Kendati demikian, penghargaan adipura berbentuk sertifikat pernah diraih pada 2013. Kala itu, kabupaten ini dimasa kepemimpinan pasangan Isran Noor dan Ardiansyah Sulaiman. Ketika menjabat sebagai Bupati Kutim berpasangan dengan Wakilnya Kasmidi Bulang, Ardiansyah Sulaiman pun kerap membeberkan capaian itu di beberapa kesempatan.
Tujuannya jelas, yakni untuk memotivasi organisasi perangkat daerah (OPD) terkait agar berusaha meraih kembali penghargaan yang sama. Bahkan kalau perlu tidak hanya sertifikat, tapi juga dapat disusul dengan piala adipura.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutim Armin Nazar tidak menampik itu. Namun, kata dia, apabila tiga tahun tidak mempertahankan sertifikat tersebut maka harus dimulai dari nol lagi. Ya, pemkab harus berjuang dari awal jika ingin memperolehnya kembali.
“Setelah memperoleh sertifikat adipura, harus mempertahankannya selama tiga tahun berturut. Setelah itu baru memperoleh pialanya. Makanya sekarang targetnya mengejar sertifikatnya,” bebernya.
Sedangkan langkah yang akan dilakukan, dengan cara memaksimalkan fungsi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Batuta. Ya, TPA merupakan salah satu indikator dengan poin tertinggi untuk memperoleh adipura. Sehingga perlu dibenahi semaksimal mungkin.
“Sebenarnya banyak indikator yang mendukung. Tapi, yang nilainya paling tinggi ada di TPA,” paparnya.
Dia tak menampik, kini TPA Batuta dikatakannya jauh dari harapan. Kendati demikian, dia tetap bersyukur didukung penuh Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman dan Wakilnya Kasmidi Bulang. Termasuk Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). Tak heran jika pada anggaran perubahan mendatang, TPA itu mulai dibenahi.
“Baik sarana dan prasarananya maupun fasilitas penunjang lainnya,” ungkapnya.
Sejauh ini, TPA yang berada di lahan seluas 7 hektare itu mulai over kapasitas. Medngingat per harinya sampah yang masuk mencapai 70 ton. Meski tidak lagi menumpu di tepi Poros Sangatta-Bengalon lantaran sudah didorong menggunakan excavator baru. Tapi truk tidak berani masuk dumping area, karena takut amblas.
“Terpaksa sampah yang dibawa ke sana (TPA Batuta) hanya diletakkan dekat jalan masuk,” tutupnya. (adv/so2)














