SiberOne.id – Permasalahan anak putus sekolah bukanlah masalah sepele. Termasuk bagi yang tidak pernah mengenyam pendidikan. Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), masalah tersebut harus dapat dituntaskan.
Satuan Pendidikan Non Formal Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF-SKB), Dinas Pendidikan (Disdik) Kutim, menjadi solusi untuk mengejar ketertinggalan pendidikan.
Stigma mengenai anak putus sekolah di Kutim diharapkan tidak lagi ada. SPNF-SKB sebenarnya merupakan ujung tombak, khususnya untuk mengenyam pendidikan non formal, dan bagi yang belum memiliki keahlian khusus.
Sebagai tempat untuk mendapatkan ijazah kesetaraan melalui program paket A, B dan C. Termasuk pelatihan-pelatihan berbagai jenis keterampilan. Di antaranya keterampilan memasak, musik, komputer dan lainnya. Perlu asupan anggaran agar berjalan maksimal.
Bagaimana tidak, dua lulusan pendidikan kesetaraan tahun pelajaran 2020/2021 SNF-SKB, berhasil menoreh prestasi yang cukup gemilang. Arrosyid Mahmuda, lulusan paket B atau setara SMP, berkesempatan menempuh pendidikan di SMA Internasional Imam Hatip Turki.
Dia dipastikan memperoleh beasiswa setelah dinyatakan lulus tes untuk di sekolah asal Turki itu. Sementara lulusan kesetaraan SMA atau paket C, Sofiyya Mahmudah, diterima berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman.
Kepala SNF-SKB Sangatta Utara Achmad Junaidi, bangga dengan anak didiknya tersebut. Apalagi bisa bersaing baik di lembaga sekolah luar negeri maupun pada perguruan tinggi terkemuka di Kalimantan Timur (Kaltim).
“Ini kerja keras para pamong belajar dan tutor, yang memberikan bimbingan serta pendidikan. Alhamdulillah selama ini tidak sia-sia,” katanya.
Metode pembelajaran dalam jaringan (daring) dan luar jaringan (luring) tetap berjalan efektif. Pihaknya pun berharap keduanya sukses menempuh pendidikan.
Sementara itu, tahun ajaran 2020/2021, SPNF-SKB meluluskan 243 peserta didik. Terdiri dari paket A 22, paket B 92 dan paket C 129 peserta didik. Sedangkan untuk tahun ajaran 2021/2022, peserta warga belajar berjumlah 709 dari tingkatan tingkatan kesetaraan paket ABC.
Hal tersebut diberikan gratis kepada masyarakat untuk mendukung program pemkab. Pihaknya berharap, dengan direncanakannya beberapa program pendidikan vokasi atau kursus dan pelatihan, khusus pendidikan kewirausahaan (PKW) dan pendidikan kecakapan kerja (PKK), peminat warga belajar semakin meningkat.
“Lulusan SPNF-SKB dapat dibekali keterampilan memadai yang dibutuhkan dunia usaha dan dunia industri,” sebutnya.
Selain itu, peralatan dan sarana prasarana penunjang program pendidikan non formal diharapkan dibenahi bertahap. Terutama dalam penambahan tenaga pamong belajar sesuai bidang yang dibutuhkan.
Di antaranya mata pelajaran matematika, seni budaya, penjaskes, prakarya, geografi, bahasa Indonesia, pendidikan vokasi, agama Islam, sejarah, teknisi komputer, petugas laboran dan bahasa Inggris. Masing-masing mata pelajaran membutuhkan satu tenaga pengajar.
“Kami harap dapat terpenuhi, sehingga proses belajar mengajar semakin baik dan efektif,” tutupnya.
Arrosyid Mahmuda, lulusan kesetaraan paket B, yang diterima melanjutkan pendidikan di SMA Internasional Imam Hatip Turki mengaku memang tertarik untuk menempuh pendidikan berstandar Internasional di Turki.
“Saya sangat bersyukur diberi kesempatan belajar di sini (SNF-SKB). Menyenangkan sekali. Pelajaran yang diberikan mudah dipahami. Guru-gurunya selalu memberikan dukungan untuk selalu belajar dan menggapai impian,” akunya. (so)














