SiberOne.id – Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level IV di Kutai Timur (Kutim) tidak seperti biasanya. Kali ini diterapkan dengan rumus yang berbeda. Ya, Tim Satgas Covid-19 menghentikan penyekatan dalam Kota Sangatta.
Tetapi hanya menyekat pintu masuk Kutim di Kilometer 1 Jalan Poros Sangatta-Bontang. Tim satgas juga fokus menjalankan operasi yustisi sejak Jumat lalu (13/8/2021).
Operasi tersebut dijalankan setiap malam, selama tiga jam. Tidak sekadar membubarkan kerumunan, tim akan menggelar swab antigen secara acak di cafe dan rumah makan yang ramai.
“Berdasarkan keputusan tim satgas. Kalau ditemui yang positif, langsung dikirim ke rumah karantina. Sekarang sudah dua orang dinyatakan positif,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kutim dr Bahrani Hasanal.
Bagi yang kontak erat, tetap didata meskipun hasil swab negatif. Kendati demikian, swab ulang akan kembali dilakukan beberapa hari kemudian. Bagi yang positif, akan ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lebih lanjut setelah diamankan di rumah karantina.
“Akan dites PCR. Kami memastikan, apakah benar-benar positif atau hanya karena virus lain. Kalau benar positif, yang kontak erat akan dicari lagi,” tegasnya.
Aksi tersebut tentu bertujuan mengurangi kerumunan. Sehingga menjadi syok terapi bagi masyarakat yang suka berkerumun. Diharapkan membuat masyarakat sadar, meskipun terlihat sehat dan tidak bergejala. Ternyata di antara mereka ternyata ada yang positif.
“Kan bisa menularkan orang lain. Entah temannya atau keluarganya. Apalagi kalau tertular pada orang tua yang lemah. Akan membahayakan, bahkan bisa fatal sampai meninggal,” sebutnya.
Langkah tersebut untuk memberi tahu masyarakat, bahwa Kutim berada pada level IV kedaruratan Covid-19. Sedangkan kasus positif masih tinggi. Bahkan, melebih standar nasional.
“Makanya diminta menjaga protokol kesehatan. Kalau tidak penting-penting amat, lebih baik di rumah saja. Tidak ada larangan untuk berusaha, tapi ikuti waktu yang dianjurkan,” sebutnya.
Kalau semua mematuhi protokol kesehatan, dia berharap level tersebut menurun. Sehingga ada kelonggaran. Tapi, tetap menegakkan protokol kesehatan.
“Masyarakat diajak kerja sama. Sekarang sama-sama susah. Petugas juga capek, waktu berkumpul dengan keluarga tersita. Kami ingin kasus menurun seperti di Jakarta,” pungkasnya. (so)














