SIBER-ONE.ID/OPINI
Dosen STAIS Kutai Timur & Direktur Lingkar Masyarakat Madani (LMM): Dr Hartono
Hari raya Idul Adha identik dengan hari kurban. Selain ibadah puasa tarwiyah-arofah dan sholat ied, ada pula ritual penyembelihan hewan kurban. Ritual kurban atau mengorbankan hewan merupakan ajaran, yang diajarkan Nabiyullah Ibrahim AS.
Sebelum diperintahkan kepada Nabi Ibrahim AS, perintah berkurban sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS. Hal ini terdapat dalam muatan Surat Al Maidah, ayat 27. Bersandar pada nilai histori dan filosofi tersebut, ada dua pesan moral yang tersirat dalam syariat berkurban, untuk dibangun dan dihadirkan dalam kehidupan.
Di antaranya kesalehan spiritual. Kesalehan spiritual ini awalnya bersifat subjektif, imani dan privat. Melalui penyembelihan hewan kurban, kesalehan tersebut mampu diinternalisasikan dalam kehidupan nyata.
Senyatanya, inilah ujian keimanan terhebat guna melihat seberapa kuat iman seseorang ketika harta benda yang disayangi, atau bahkan nyawa yang dimiliki wajib dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Ketika berkurban, bukan daging dan darah yang akan sampai kepada Sang Pencipta. Melainkan keikhlasan dan penghambaan yang tulus kepada Allah lah yang telah diniatkan.
Ada pula kesalehan sosial. Ibadah kurban merupakan upaya menghidupkan sunnah Nabi Allah SWT. Dengan menyembelih hewan kurban, ungkapan rasa syukur coba dihadirkan. Tak dapat dipungkiri, bahwa dengan berkorban hewan maka telah mampu saling berbagi dan memberi.
Sangat dimungkinkan, sepanjang tahun ada di antara hamba yang tak mampu membeli 1 kilogram daging sapi. Sehingga, pada momen hari raya kurban ini mereka bisa merasakan dan turut bahagia.
Kebahagian ini salah satu bukti bahwa nilai idul kurban mampu dirasakan semua kalangan. Mulai dari yang tak berada sampai yang berada, yang bawahan sampai yang berpangkat dan seterusnya.
Sebab, ritual kurban terus dilaksanakan setiap tahunnya. Maka manajeman yang baik dalam pengelolaan dan distribusi hewan juga harus diperhatikan. Seperti hal di Masjid Nur Ikhlas, Jalan Lele, Sp 1, Dusun Sumber Jaya, Desa Wanasari, Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur (Kutim). Pengelolaan terorganisir telah dilakukan.
“Kerja sama semua pihak menjadi kunci keberhasilan. Mulai dari tokoh masyarakat, tokoh agama, RT, relawan KMUI dan semua masyarakat yang terlibat, seperti yang disampaikan oleh ketua panitia Bapak Sujar,” ujar Dr Hartono.
Penyembelihan hewan kurban di Masjid Nur Ikhlas, dilaksanakan pada hari kedua Idul Adha. Ada enam sapi yang dikorbankan dengan waktu empat jam pengelolaan (pukul 08.00-12.00 Wita). Berat daging 650 kilogram. Belum termasuk tulang, kulit dan jeroan.
Semua daging itu dikemas menjadi 450 kantong, masing-masingnya 1,4 kilogram. Kemudian distribusikan kepada warga se-Dusun Sumber Jaya, aparat pemerintah dan guru ngaji.
Dalam proses pengelolaan hewan kurban protokol kesehatan juga sangat diperhatikan. Mengingat masa pandemi pandemi belum berakhir. Ketua panitia, pada acara pembubaran kepanitiaan menyakini, pada tahun yang akan datang masyarakat percaya (trass publik).
Sehingga hewan kurban bisa lebih banyak lagi. Masyarakat bisa menikmati semua. Hemat penulis, ini merupakan tradisi baik. Bagian dari kesalehan sosial secara kolektif. Setiap momen atau kegiatan mampu diorganisir dan dimanajemen dengan baik. Kemudian dipertangung jawabkan diakhir kegiatan.
Evaluasi untuk kebaikan ke depan menjadi sebuah keniscayaan. Sebab, ada penilaian yang terukur, distribusi kerja yang terarah dan seterusnya. Sebagai penutup, ibadah kurban menegaskan Islam adalah agama yang memiliki dimensi spiritual.
Lebih-lebih dimensi sosial. Di mana kerekatan sosial, ikatan sosial dan kepedulian sosial harus terus dibangun yang bersanding dengan kesalehan spiritual yang ada. (so)














