SIBERONE.ID, KUTAI TIMUR— Seni tarsul menjadi salah satu fokus utama program pelestarian budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur tahun depan. Melalui Kabid Kebudayaan, Fadliansyah, mengatakan bahwa seni tersebut memiliki nilai historis yang perlu diwariskan.
“Tarsul harus tetap dikenal generasi muda,” ujarnya.
Pihaknya sedang menyiapkan pelatihan khusus bagi pelatih seni agar mampu mengajarkan tarsul dengan metode yang lebih modern. Pelatihan itu akan dilakukan dengan konsep workshop bersama pelatih profesional.
“Kita siapkan pelatih terbaik untuk membina mereka,” ucap Fadliansyah.
Program ini diharapkan mencetak tenaga pelatih yang kompeten. Tahun depan, Disdikbud juga berencana menggelar lomba tarsul tingkat kabupaten. Fadliansyah menyebut lomba tersebut akan menjadi momentum kebangkitan seni tradisi.
“Ini bagian dari strategi regenerasi,” katanya.
Lomba ini akan melibatkan peserta dari sekolah hingga komunitas budaya. Ia menilai seni tarsul berpotensi berkembang luas apabila dipadukan dengan teknologi digital. Media digital dianggap mampu menjangkau masyarakat yang lebih besar.
“Zaman digital harus kita manfaatkan,” jelasnya.
Namun ia menegaskan pakem seni tetap dijaga sebagaimana keasliannya. Selain tarsul, sejumlah kesenian seperti kasidah dan teater juga akan diperkuat melalui pelatihan serupa. Disdikbud menilai semua seni daerah perlu mendapat ruang pengembangan.
“Kita tidak boleh melupakan seni Islam seperti kasidah,” tambahnya.
Hal ini penting untuk menjaga keberagaman budaya. Fadliansyah berharap program-program tersebut memberikan dampak nyata bagi pelestarian seni daerah. Ia menegaskan bahwa budaya merupakan identitas yang harus dirawat bersama.
“Semoga budaya kita makin dicintai generasi muda,” pungkasnya. (sl/adv)














