SIBERONE.ID, KUTAI TIMUR— Ketersediaan fasilitas medis di Kabupaten Kutai Timur semakin lengkap, termasuk alat ultrasonografi (USG) dan elektrokardiogram (EKG) yang kini sudah dimanfaatkan secara optimal oleh tenaga kesehatan. USG digunakan untuk pemeriksaan kehamilan dan organ dalam dengan teknologi 2D, 3D, 4D, hingga color doppler, sementara EKG berfungsi merekam aktivitas listrik jantung untuk mendeteksi gangguan kardiovaskular.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kutim, Sumarno, menyampaikan bahwa tenaga medis di fasilitas kesehatan daerah telah dibekali pelatihan sesuai standar masing-masing alat. “Kalau USG itu untuk periksa hamil ya, nah itu juga dokternya sudah dilatih sama dokter obgyn. EKG-nya juga mereka punya pelatihan masing-masing, kalau EKG itu jantung,” jelasnya.
Menurut Sumarno, dokter di unit gawat darurat (UGD) maupun rawat jalan telah mampu melakukan pemeriksaan awal terhadap pasien dengan gejala tertentu. Misalnya, untuk pasien yang datang dengan keluhan nyeri dada, dokter dapat langsung melakukan pemeriksaan EKG guna memastikan apakah kondisi tersebut mengarah pada penyakit jantung.
Terkait pelatihan penggunaan USG, Sumarno mengungkapkan bahwa jadwalnya telah ditetapkan dan dilaksanakan secara terstruktur. “Pelatihannya kalau untuk USG itu dijadwalkan ada, semua dilatih sama dokter Sandri yang SpOG sini,” ujarnya. Dengan demikian, pemeriksaan kehamilan maupun kondisi organ internal lainnya dapat dilakukan dengan lebih akurat oleh tenaga kesehatan.
Sementara itu, untuk pelatihan EKG, mekanismenya lebih beragam. Ada dokter yang mengikuti pelatihan mandiri, dan ada pula yang dilatih langsung melalui Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes). “Kalau EKG itu ada yang pelatihan sendiri, ada yang langsung dilatih di Bapelkes,” kata Sumarno.
Ia menegaskan bahwa pelatihan EKG mensyaratkan sertifikasi khusus. Setiap dokter yang menangani pemeriksaan EKG wajib memiliki sertifikat penunjang kompetensi, sehingga siap melakukan interpretasi hasil rekaman jantung secara profesional. Sertifikasi ini juga menjadi langkah penting untuk menjamin mutu pelayanan kesehatan.
Terkait frekuensi pelatihan, Sumarno menjelaskan bahwa satu kali pelatihan sudah cukup untuk membekali dokter dengan kemampuan dasar yang diperlukan. “Biar kalau sudah satu kali pelatihan itu sudah diterima, sudah cukup untuk beberapa hari itu. Dia punya sertifikat,” tambahnya.
Dengan adanya pelatihan berkelanjutan ini, Dinas Kesehatan Kutim berharap layanan diagnosa menggunakan USG dan EKG dapat semakin optimal dan merata di seluruh fasilitas kesehatan daerah. (az/adv)














