SIBERONE.ID, KUTAI TIMUR— Upaya edukasi kesehatan kepada masyarakat terus diperkuat melalui peran aktif tenaga promosi kesehatan (promkes) di setiap puskesmas. Plt Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur, Sumarno, menjelaskan bahwa setiap puskesmas memiliki satu tenaga promkes yang bertugas melakukan penyuluhan langsung ke sekolah, posyandu, dan berbagai lokasi pelayanan masyarakat.
“Di setiap puskesmas itu ada pos pembantu, jadi ada satu tenaga promosi kesehatan. Tugasnya itu ke sekolahan, ke posyandu, ke mana-mana untuk kasih penyuluhan,” ujar Sumarno.
Ia menambahkan, kegiatan edukasi tersebut tidak berjalan sendiri. Tenaga promkes senantiasa bekerja sama dengan berbagai bidang kesehatan lainnya. Program penyuluhan dilakukan bersama tim malaria, HIV, tuberkulosis (TB), maupun bidang konseling agar masyarakat mendapatkan informasi lengkap dan tepat. “Promkes itu keliling untuk penyuluhan kesehatan, tapi tetap kerja sama dengan bidang lain,” jelasnya.
Kerja sama tidak hanya dilakukan internal dinas kesehatan, tetapi juga lintas organisasi perangkat daerah (OPD). Sumarno menegaskan bahwa isu kesehatan sering kali terkait dengan sektor lain sehingga diperlukan kolaborasi yang solid. “Kalau stunting berarti dengan DPPA, kalau sakit jiwa bekerja sama dengan Dinas Sosial. Kita juga berkaitan dengan Danramil, Kapolsek, bahkan perusahaan,” ungkapnya.
Meski koordinasi berjalan intens, Sumarno menyebut belum ada aplikasi khusus yang digunakan untuk mengintegrasikan kerja lintas sektor. Namun, salah satu kerja sama Lintas sektor dibentuk Tim Penanggulangan Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) dan berbagai forum yang rutin digelar. “Untuk koordinasi tidak ada aplikasi, contoh kita pakai tim TPKJM,” ujarnya.
Di tingkat puskesmas, mekanisme koordinasi dilakukan secara teratur melalui lokakarya mini bulanan. Dalam forum tersebut, seluruh staf puskesmas melakukan evaluasi program, membahas kendala, serta menyusun langkah tindak lanjut. “Puskesmas setiap bulan mengirim mini lokakarya ke semua staf,” terang Sumarno.
Selain itu, setiap tiga bulan sekali dilaksanakan mini lokakarya lintas sektor yang menghadirkan berbagai pihak terkait, termasuk perusahaan, desa, kecamatan, hingga dinas pertanian. Pertemuan ini bertujuan mengevaluasi kinerja program kesehatan selama tiga bulan sebelumnya serta menyelesaikan hambatan secara bersama. “Itu sudah sesuai dengan alur manajemen Puskesmas, jadi lokakarya mini bulanan dan Minilokakarya lintas sektor tiga bulan sekali,” tambahnya.
Pada akhir tahun, rangkaian musyawarah tingkat desa dan kecamatan seperti Survei Mawas Diri (SMD), Musyawarah Masyarakat Desa (MMD), dan Musrenbang kembali digelar. Melalui forum tersebut, puskesmas bersama masyarakat menggali permasalahan kesehatan di desa untuk kemudian diusulkan dalam perencanaan pembangunan. Dengan pola kerja berjenjang dan terstruktur ini, Dinas Kesehatan Kutai Timur memastikan bahwa edukasi masyarakat dan penanganan masalah kesehatan berjalan lebih komprehensif dan terarah. (az/adv)














