SIBERONE.ID, KUTAI TIMUR— Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutai Timur mulai memperkuat kapasitas Tim Pendamping Keluarga (TPK) melalui pelatihan digital sebagai upaya meningkatkan kualitas pendataan dan pendampingan terhadap keluarga berisiko stunting. Langkah ini menjadi jawaban atas berbagai temuan ketidakakuratan data yang selama ini menghambat intervensi pemerintah.
Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi, menjelaskan bahwa pelatihan tersebut melibatkan narasumber dari internal DPPKB yang selama ini bertugas sebagai operator sistem pendataan. Mereka bertindak sebagai instruktur lokal untuk memastikan seluruh kader memahami penggunaan aplikasi digital yang kini menjadi standar pendataan nasional.
“Kalau dulu pendataan masih manual, kini semua diarahkan digital agar lebih cepat dan akurat. Kita ingin tidak ada lagi data yang tertinggal atau salah input,” ujarnya.
Materi pelatihan meliputi teknik verifikasi data langsung di lapangan, cara melakukan input ke aplikasi pendataan keluarga, membaca indikator risiko stunting, hingga strategi komunikasi dengan masyarakat agar proses pendataan berjalan lancar. Dengan kemampuan digital yang lebih baik, TPK diharapkan mampu mendeteksi masalah secara cepat dan melaporkannya secara real time.
Junaidi menegaskan bahwa TPK merupakan ujung tombak keberhasilan program keluarga berencana dan percepatan penurunan stunting. Karena itu, peningkatan kompetensi menjadi bagian penting dari target pembangunan 2026.
“Kita ingin intervensi bukan hanya ke keluarga, tapi juga peningkatan kemampuan petugas lapangan. Mereka harus siap dengan perubahan sistem dan tuntutan data yang semakin presisi,” tegasnya.
DPPKB berharap program ini menjadikan TPK Kutim sebagai salah satu tim pendamping berbasis teknologi terbaik di Kalimantan Timur, sekaligus contoh bagi daerah lain dalam modernisasi pendataan keluarga. (sl/adv)














