Son Hatta Bantu Paguyuban Kuda Lumping

  • Bagikan
IST: Foto Bersama

SIBERONE.ID, KUTAI TIMUR – Kepedulian Son Hatta Anggota DPRD Kutim terhadap dunia kesenian tak diragukan lagi. Pasalnya, ia kerap memberikan bantuan agar kesenian suatu daerah dapat berjalan lancar dan sukses.

Silah satunya kesenian kuda lumping. Ya, politisi PPP itu memberikan bantuan kostum lengkap untuk para paguyuban di Desa Muara Wahau, Wahai Baru, dan Wanasari.

“Alhamdulillah, kita panjatkan puji syukur kepada Allah. Kami dapat menjembatani aspirasi untuk  saudara  kami  dari Paguyuban  kuda lumping dan kuda kepang di desa Muara Wahau, Wahau baru dan Wanasari. Mereka telah menerima kostum kesenian,” katanya.

Dirinya berharap agar kiranya bantuan tersebut bermanfaat dan pastinya dapat meningkatkan kesenian dan semakin bersemangat lagi.

“Semoga bisa bermanfaat  dan bisa menambah semangat kebersamaan Kita. Salam sehat  dan sukses selalu untuk kita semua,” katanya.

Untuk diketahui, Kuda lumping yang juga dikenal sebagai jaran kepang atau jathilan, merupakan sebuah tarian tradisional Jawa yang menampilkan sekelompok prajurit menunggang kuda. Menurut Monika Proba, seorang peneliti seni asal Kanada yang tinggal di Warsawa, Polandia, tarian Kuda Lumping berasal dari Yogyakarta.

Tarian kuda lumping menggunakan anyaman kuda dari bambu atau bahan lainnya yang dibentuk menyerupai kuda, lalu dihiasi dengan rambut tiruan dari tali plastik dan kain berwarna. Selain menampilkan adegan prajurit berkuda, tarian ini juga seringkali menyajikan atraksi seperti kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti memakan beling atau kebal terhadap deraan pecut.

Meskipun berasal dari Jawa, tarian ini juga banyak dilakukan oleh orang-orang Jawa yang menetap di Sumatera dan di beberapa daerah di luar Indonesia seperti di Malaysia, Suriname, Hong Kong, Jepang, dan Amerika.

Atraksi kuda lumping awalnya merupakan sebuah pertunjukan untuk merefleksikan semangat juang serta simbol perlawanan pasukan berkuda Pangeran Diponegoro saat melawan penjajahan Belanda. Namun dalam perkembangannya, pertunjukan ini memasukkan unsur spiritual. (adv/so1)

  • Bagikan