{"id":17985,"date":"2025-11-23T08:50:37","date_gmt":"2025-11-23T08:50:37","guid":{"rendered":"https:\/\/siberone.id\/?p=17985"},"modified":"2025-11-26T10:00:04","modified_gmt":"2025-11-26T10:00:04","slug":"dinkes-kutim-perkuat-edukasi-kesehatan-lewat-promkes-dan-koordinasi-lintas-sektor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/2025\/11\/23\/dinkes-kutim-perkuat-edukasi-kesehatan-lewat-promkes-dan-koordinasi-lintas-sektor\/","title":{"rendered":"Dinkes Kutim Perkuat Edukasi Kesehatan Lewat Promkes dan Koordinasi Lintas Sektor"},"content":{"rendered":"<p>SIBERONE.ID, KUTAI TIMUR\u2014 Upaya edukasi kesehatan kepada masyarakat terus diperkuat melalui peran aktif tenaga promosi kesehatan (promkes) di setiap puskesmas. Plt Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur, Sumarno, menjelaskan bahwa setiap puskesmas memiliki satu tenaga promkes yang bertugas melakukan penyuluhan langsung ke sekolah, posyandu, dan berbagai lokasi pelayanan masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cDi setiap puskesmas itu ada pos pembantu, jadi ada satu tenaga promosi kesehatan. Tugasnya itu ke sekolahan, ke posyandu, ke mana-mana untuk kasih penyuluhan,\u201d ujar Sumarno.<\/p>\n<p>Ia menambahkan, kegiatan edukasi tersebut tidak berjalan sendiri. Tenaga promkes senantiasa bekerja sama dengan berbagai bidang kesehatan lainnya. Program penyuluhan dilakukan bersama tim malaria, HIV, tuberkulosis (TB), maupun bidang konseling agar masyarakat mendapatkan informasi lengkap dan tepat. \u201cPromkes itu keliling untuk penyuluhan kesehatan, tapi tetap kerja sama dengan bidang lain,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Kerja sama tidak hanya dilakukan internal dinas kesehatan, tetapi juga lintas organisasi perangkat daerah (OPD). Sumarno menegaskan bahwa isu kesehatan sering kali terkait dengan sektor lain sehingga diperlukan kolaborasi yang solid. \u201cKalau stunting berarti dengan DPPA, kalau sakit jiwa bekerja sama dengan Dinas Sosial. Kita juga berkaitan dengan Danramil, Kapolsek, bahkan perusahaan,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Meski koordinasi berjalan intens, Sumarno menyebut belum ada aplikasi khusus yang digunakan untuk mengintegrasikan kerja lintas sektor. Namun, salah satu kerja sama Lintas sektor dibentuk Tim Penanggulangan Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) dan berbagai forum yang rutin digelar. \u201cUntuk koordinasi tidak ada aplikasi, contoh kita pakai tim TPKJM,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Di tingkat puskesmas, \u00a0mekanisme koordinasi dilakukan secara teratur melalui lokakarya mini bulanan. Dalam forum tersebut, seluruh staf puskesmas melakukan evaluasi program, membahas kendala, serta menyusun langkah tindak lanjut. \u201cPuskesmas setiap bulan mengirim mini lokakarya ke semua staf,\u201d terang Sumarno.<\/p>\n<p>Selain itu, setiap tiga bulan sekali dilaksanakan mini lokakarya lintas sektor yang menghadirkan berbagai pihak terkait, termasuk perusahaan, desa, kecamatan, hingga dinas pertanian. Pertemuan ini bertujuan mengevaluasi kinerja program kesehatan selama tiga bulan sebelumnya serta menyelesaikan hambatan secara bersama. \u201cItu sudah sesuai dengan alur manajemen Puskesmas, jadi lokakarya mini bulanan dan Minilokakarya lintas sektor tiga bulan sekali,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Pada akhir tahun, rangkaian musyawarah tingkat desa dan kecamatan seperti Survei Mawas Diri (SMD), Musyawarah Masyarakat Desa (MMD), dan Musrenbang kembali digelar. Melalui forum tersebut, puskesmas bersama masyarakat menggali permasalahan kesehatan di desa untuk kemudian diusulkan dalam perencanaan pembangunan. Dengan pola kerja berjenjang dan terstruktur ini, Dinas Kesehatan Kutai Timur memastikan bahwa edukasi masyarakat dan penanganan masalah kesehatan berjalan lebih komprehensif dan terarah. (az\/adv)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SIBERONE.ID, KUTAI TIMUR\u2014 Upaya edukasi kesehatan kepada masyarakat terus diperkuat melalui peran aktif tenaga promosi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":17992,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6,473,61,43],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-17985","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-kominfo-kutim","category-kutai-timur","category-pemerintahan"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17985","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17985"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17985\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":17994,"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17985\/revisions\/17994"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17992"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17985"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17985"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17985"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=17985"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}