{"id":17635,"date":"2025-11-18T05:33:56","date_gmt":"2025-11-18T05:33:56","guid":{"rendered":"https:\/\/siberone.id\/?p=17635"},"modified":"2025-11-20T05:46:50","modified_gmt":"2025-11-20T05:46:50","slug":"dewan-aldriansyah-kisah-terjun-ke-politik-karena-desakan-dan-harapan-masyarakat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/2025\/11\/18\/dewan-aldriansyah-kisah-terjun-ke-politik-karena-desakan-dan-harapan-masyarakat\/","title":{"rendered":"Dewan Aldriansyah: Kisah Terjun ke Politik Karena Desakan dan Harapan Masyarakat"},"content":{"rendered":"<p>SIBERONE.ID, KUTAI TIMUR- Perjalanan politik Dewan Aldriansyah bukanlah langkah yang dirancang sejak awal. Ia mengakui bahwa dirinya tidak pernah memiliki niat langsung untuk terjun ke dunia politik. Namun, desakan dan harapan masyarakat yang terus datang membuat dirinya akhirnya menerima amanah tersebut.<\/p>\n<div>Latar belakang keluarganya yang sejak lama dipercaya masyarakat semakin memperkuat dorongan itu. Ayahnya, almarhum Arjuna Ali, pernah menjabat sebagai anggota DPRD selama dua periode, sehingga keluarga mereka telah dikenal sebagai keluarga yang dekat dengan pelayanan publik.<\/div>\n<div>\n<p>Setelah ayahnya memutuskan untuk beristirahat dari dunia politik, masyarakat kembali datang meminta agar keluarga tersebut tetap menghadirkan perwakilan. Dorongan itu kemudian membuat sang ibu, almarhumah Hj. Kamsiah, maju melalui Partai NasDem. Namun satu setengah tahun setelah menjabat, ibunya meninggal dunia, dan keluarga Aldriansyah kembali memutuskan untuk berhenti dari politik. Meski begitu, masyarakat tak pernah berhenti meminta agar keluarga mereka tetap memiliki wakil di legislatif.<\/p>\n<p>Aldriansyah mengaku sempat menolak berulang kali. Namun ketika ia ikut ayahnya berkeliling membagikan bantuan rutin ke desa-desa, beban moral itu semakin besar. Hampir setiap warga yang ditemui menyampaikan harapan agar dirinya melanjutkan perjuangan orang tuanya. Dari sanalah ia mulai memahami bahwa politik bukan sekadar jabatan, tetapi amanah kepercayaan dari masyarakat yang membutuhkan figur yang dapat mereka andalkan.<\/p>\n<p>Akhirnya, Aldriansyah maju dan terpilih sebagai anggota DPRD dari Dapil 5 yang meliputi Sangkulirang, Sandaran, Kaubun, Karangan, dan Kaliorang. Meski menjadi salah satu anggota termuda, ia memahami bahwa tugas seorang dewan adalah menyerap dan memperjuangkan aspirasi masyarakat, bukan sekadar membawa visi dan misi pribadi. Banyak kebutuhan warga yang sederhana namun luput dari prioritas pembangunan, dan di sinilah Aldriansyah merasa peran legislatif menjadi penting.<\/p>\n<p>Sebagai anggota Komisi C yang menangani bidang infrastruktur, lingkungan hidup, hingga pemadam kebakaran, ia dihadapkan pada tanggung jawab besar. Mulai dari kondisi jalan rusak, akses air bersih, hingga keterbatasan sarana pemadam di beberapa kecamatan, semuanya menjadi fokus kerja yang ia dorong agar mendapat perhatian pemerintah.<\/p>\n<p>Aldriansyah juga menyoroti ketimpangan pembangunan di wilayah pesisir, terutama daerah yang akses jalannya masih sulit dijangkau. Ia mendorong agar pembukaan jalan baru, peningkatan pasokan listrik, dan pembangunan infrastruktur dasar dapat menjadi prioritas berkelanjutan.<\/p>\n<p>Dalam menjalankan amanahnya, Aldriansyah menegaskan bahwa politik membutuhkan mental yang kuat dan komitmen untuk terus mendengar masyarakat. Ia berharap ke depan semakin banyak anak muda yang ikut terlibat, karena regenerasi dalam politik adalah hal yang tidak bisa dihindari.<\/p>\n<p>Bagi Aldriansyah, perjalanannya terjun ke politik bukan karena ambisi pribadi, melainkan sebuah respon atas harapan masyarakat yang ingin melihat perubahan. Ia percaya bahwa selama amanah itu dijalankan dengan hati, politik akan menjadi ruang pengabdian yang membawa manfaat bagi banyak orang. (adv\/som)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SIBERONE.ID, KUTAI TIMUR- Perjalanan politik Dewan Aldriansyah bukanlah langkah yang dirancang sejak awal. Ia mengakui&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":17638,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6,471,61],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-17635","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-dprd-kutim","category-kutai-timur"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17635","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17635"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17635\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":17642,"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17635\/revisions\/17642"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17638"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17635"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17635"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17635"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/siberone.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=17635"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}