Yan Ikut Pantau Stunting di Kutim

  • Bagikan
Ketua Komisi D DPRD Kutai Timur, Yan

SIBERONE.ID, KUTAI TIMUR – Stunting adalah masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak. Stunting juga menjadi salah satu penyebab tinggi badan anak terhambat, sehingga lebih rendah dibandingkan anak-anak seusianya. Tidak jarang masyarakat menganggap kondisi tubuh pendek merupakan faktor genetika dan tidak ada kaitannya dengan masalah kesehatan.

Faktanya, faktor genetika memiliki pengaruh kecil terhadap kondisi kesehatan seseorang dibandingkan dengan faktor lingkungan dan pelayanan kesehatan. Biasanya, stunting mulai terjadi saat anak masih berada dalam kandungan dan terlihat saat mereka memasuki usia dua tahun.

Kondisi saat ini masih banyak anak yang tidak mendapatkan asupan gizi yang baik sehingga terjadi stunting. Asupan gizi yang baik didapatkan dari makanan yang tepat, sesuai dengan yang tersedia di daerah masing-masing. Gizi yang baik adalah pondasi penting bagi seorang anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Penguatan promosi pemberian makanan bayi dan anak mencakup inisiasi menyusui eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan dan sampai dengan 2 tahun. Pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI) dengan mengutamakan asupan makanan tinggi protein hewani sejak anak berusia 6 bulan yang mana sangat penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

Anggota DPRD Kutim, Yan ikut membicarakan hal itu. Kata dia, angka stunting di Kutim terbilang tinggi dari 10 kabupaten kota.

“Meskipun angka prevalensi stunting kita turun,  tapi jangan sampai lengah, kita masih jauh untuk mengejar angka yang ditetapkan oleh pemerintah pusat sebesar 14 persen di 2024 mendatang, ” ujar anggota DPRD Kutim Yan.

Sebelumnya, Yan berharap, dengan dukungan anggaran yang dimiliki saat ini, hendaknya pemerintah daerah lebih fokus dalam menangani permasalahan terkait  gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam rentang yang cukup waktu lama, yaitu sejak dalam kandungan hingga 1000 (seribu) hari pertama kelahiran bayi ini.

“Jangan sampai kejadian, seperti yang disampaikan oleh Presiden kita Joko Widodo, anggarannya besar tapi malah digunakan untuk hal yang tidak penting, ” ujarnya.

Disisi lain, saat dirinya mengikuti rapat  bersama dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) disepakati bahwa akan ada perbaikan data yang akan digunakan sebagai acuan dalam program menurunkan angka prevalensi stunting di Kabupaten Kutim.

“Kita sudah sepakat untuk bersama-sama terus menekan stunting di kabupaten tercinta ini, ” Pungkasnya. (adv/so1)

  • Bagikan